Senin, 21 Desember 2009

Tahan...

Setelah rabu-kamis yang melelahkan ini kusapa lagi kau...

Kau bisa bertahan, bukan?!




sayang kamu, diaryku...

Kamis, 17 Desember 2009

Ndak masuk...

Walah, kota yang dingin...
maaf ndak jadi menemuimu. Bukan karena tuanmu ndak setuju, bukan. Aku tumbang, setelah melewati rabu-kamis yang menguras tenaga.
Mari kita coba lagi, esok, lusa atau di lain hari.
slurp... slurp... :)

Hehe...

hehehe...
hihihihi...
gembira aku...
gembira ria...
pokoke gembira ae...
blog-ku kyk diary...
ndak enek wong sing ngerti...

Rabu, 16 Desember 2009

Ignore, abort or delay?

Kau tak mengenalku
Rembulan enambelas desember ini tak sempurna

Aku mengenal waktumu
Untukku, setelah CSI

Aku disana
Kau tak ada

Aku tau kau tak tersesat
Kau sendiri pemetanya

Mungkin kau sibuk
Mungkin aku tak di hati.

Mungkin juga kau lupa
Lupa caraku...


buon compleano senorita...
-te, suroboyo, 16 Desember 2009-

Selasa, 15 Desember 2009

18.56

Hujan yang kurindu tiba
Petir garang menyapa
Mereka, para pecintanya

Aku abai
Membopong pena berjalan tertatih
Meniti tiap baris buku agenda
karena guncang di dada
Makin nyata kurasa

Dua lagu kuputar bergantian
Cinta terakhir Gigi
dan Sheila Madjid kesukaan
yang aku terlupa judulnya
Agar sempurna tatanan
Agar sempurna Keadaan

HP mini note malas kujamah
Tradisional saja.
Telungkupku, boneka Happy feet, bantal, karpet abu-abu,
---- pilot hitam, agenda, dan kau.

Kureka gambar Jumat depan menjelang petang
Disebuah air terjun kotamu
Tiga hari menjelang

Esok malam kubuat janji itu,
Denganmu.
Semoga kau tak berkebaratan.

Kau dan kotamu yang dingin, apa kabar?
Aku kan datang.
Tak perlu bendera atau karpet merah
Sederhana saja...
Sepertiku
.

Minggu, 13 Desember 2009

Menemani Mama

Kau jatuh cinta
Aku tak menyapa
Karena akan sia-sia

Kau jatuh cinta
Aku tak punya alasan untuk menyapa
Kecuali pada suatu malam
Di enambelas Desember yang sempurna

Kau jatuh cinta
Mungkin tak lagi sama
Tata bahasa ataupun aksentualisasinya

Kau jatuh cinta
Bila tak suka, semoga kau tak lupa
Jurus terjitu menghentikanku...

Seperti yang telah sudah...

-te, soerabaia, 13 Dec '09-

Sabtu, 12 Desember 2009

Kena Kau!

Sabtu malam tak lazim
Aku tak keluar rumah
Untuk turun ke pinggir pasar
menikmati asap bersama kawan-kawan...

Aku bermain kartu sambil berbagi dongeng
Dengan kawan sepermainan
Di kedai depan seberang gang

Truff bukan cap sa, remi, atau lintrik
Dimainkan seperti biasa

Seorang kawan membawa dongen
Dari pesta di sabtu yang seharusnya aku menyertainya
Tentangmu...

ah, bukan
Tentang lelaki...
Berperawakan ceking,
Berkulit kuning,
Sedikit lebih tinggi dariku...

Lelaki...
Yang langkahnya kau turut
Karenanya rekah senyummu
terbaca gembira...

Aku pun ingin tahu
Seberapa aneh gaunmu
Yang mungkin juga karena ia kau berdandan
Tidak seperti karenaku*

Harusnya aku mengenal
Kamu ataupun dia
Mungkin dekat, mungkin sekedar nama

Tapi biar wajar saja,
aku menikmatinya

01.00 kembali 'tuk tengkurapi tulisan
Teringat kembali Colbie Calliat dan CDnya yang kau beli untuk sebuah lagu di dalamnya.

Mungkin ada kaitannya...


-untukmu juga hatimu yg kini bagiku keduanya sama sekali asing-

* kutipan cerita:
"Gel, macake waneh... gak koen banget lah..."

Jumat, 11 Desember 2009

Menanti periuk pecah

Malam langit merah, menanti hujan pecah
Dari periuk terhantam petir dan gemuruh suara
Kapan saja.

Di tanah lutut kutanam
Kepada Tuhan gemeretak doaku sirri
"Segerakan guyurMu"

Agar daun-daun dan tanah basah
Agar lututku ringan tercerabut
Agar tak berat langkah memercik

"Yang rapat sekalian"
Biar pungkas segala gelisah
Biar tandas ramal kutelan

Biar tak mampu kutebak,
Air yang dikecap lidah nanti
Jatuh dari langit,
atau dari mata

****** ****
:)

-te, soerabaia,11 Desember 2009-

Senin, 07 Desember 2009

Awkward

Aku kembali menemui sunyi. Kali ini tak lagi remang yang kupilih menemani. Aku memilih gelap gulita. Aku duduk menundukkan kepala, menduplikasi diri. Sengaja aku tak mengundang Tuhan, karena aku selalu malu ketika perlu melibatkan Tuhan untuk urusan remeh temeh semacam ini. Meskipun sejatinya aku sangat perlu.

Aku dudukkan replikaku dengan posisi yang sama, saling hadap denganku. Dan mulailah aku bercakap dengannya. Aku bercerita banyak hal padanya, mengenai rindu, hujan, kemarau, petang dan juga pelukan. Ia tak banyak bicara, “terus” “lalu” “ya, ya?!” “hmmm”, hanya itu. Lalu tersenyum sepanjang ceritaku. Aku juga bercerita tentangmu, tentang kita yang saling mengalihkan pandangan ketika mata-mata kita bertumbukan, tentang cakap kita yang tak saling pandang, tentang kekakuan yang coba kita lunturkan dengan kebasabasian, tentang rindu yang kau dan aku coba tuntaskan.

Meski terlihat acuh dengan membuka-tutup ponselnya, memainkan lagu-lagu Padi di laptopnya tapi aku tahu ia tetap tulus mendengar ceritaku. Ia tertawa mendengarku bercerita bahwa kedatanganmu memperbaiki peruntunganku. Terbahak. Konyol katanya. Ah, dia lucu, bukan. Dan aku juga bercerita tentang perjalanan mengantarmu pulang. Tentang romantisme yang menjadi keunggulan motor ketimbang mobil. Tentang aku yang memintamu memelukku mendekati tikungan terakhirnya.
“Aku merasai segalanya”, kubilang.
“Kau tahu, dan ia pun membenamkan wajahnya kepundakku”, tambahku.
"Bukan raganya yang memelukku, tapi hatinya”, aku tak berhenti.
Ia terkekeh. Semakin lama kekehnya semakin keras, lalu ia menangis. Untukku.

“Kau bisa merangkum pesan yang disampaikan dalam peluknya itu?”, tanyanya.
“Ya”. Jawabku.
“Apa?” kembali ia bertanya.
“Aku mencintaimu, apapun itu, kapanpun” aku meyakinkan dia.
“Salah”. Seringainya menggiringku bertanya.
“Lalu?” aku balik bertanya.
“Tidakkah kau rasa itu pelukan yang dia berikan kepadamu untuk terakhir kalinya? Tidakkah kau rasai bahwa pelukan itu adalah sesuatu yang akan ia ingat bukan sesuatu yang akan ia ulangi? Bukankah sudah kau takutkan bahwa akan ada hati lain yang memikatnya?”
“khkhkhkhkh....”
“Hahahaha....”
Aku muntab, marah dengan ketidakmampuanku mewujudkan hatiku melekat dihatimu. Kutendang dadanya, ia terjengkang. Aku menerkamnya lalu ia pun lenyap, menyatu kembali dalam tubuhku.
Aku mengumpatnya dalam hati.
Pelan-pelan kurasai lubang hidungku memberat dan melebar, basah. Katung mataku juga lebih berat, bola mataku mengkilat berkaca-kaca. Persis seperti ketika kau labuhkan peluk dan wajahmu di pundakku.

"Hujan sehari menghapus kemarau sepanjang tahun"

"Lalu apa arti basahnya tanah, lembabnya udara, dinginnya cuaca, titik-titik air di ujung dedaunan menjuntai sore ini jika esok kemarau menggilas lebih trengginas?"


nb: aku suka keganjilan ini, sesak di dada tapi membuatku lancar menulis, semoga berpengaruh baik pada skripsiku... :)

Jumat, 11 September 2009

Masih

Di sini,


meski engkau benar-benar enggan...

-untuk yos-

Selasa, 01 September 2009

Parah....

Wah tulisanku semakin ga mbentuk nih...
Pasti gara-gara kebanyakan nulis esai dan cerpen yang gak pernah kelar. Padahal ide ada, rancangan pre dan pos kausa sudah siap, tapi waktu mulai nulis... iki... STUCK! Perlu belajar lagi nih... Gak enak banget kalo susah nulis gini. Padahal tulisanku juga gak pernah bagus. hehe.
Jadi inget sama seseorang deh... suka baca-baca tulisan dia, jadi sering ada inspirasi sesudahnya. Kadang nunjukin dukungan ato malah bikin teori penolakan, pokoknya inspiratif.(semoga dia g pernah baca ni blog, nggarai isin, punya orang jehh...)
Haha...

Semoga kau baik slalu...

It's been a while...

Menahan Doa

Aku menulis ramalan
Tak kuhitung, mungkin belasan atau ratusan
Tentangmu
Pada telapak tanganku

Kumudian kucelupkan dalam mangkuk
Berisi air telaga Sarangan
Untuk kuminum sesudahnya

Biar hanya aku
Tak perlu kau atau orang lain tahu

Demikan harusnya ramalan diperlakukan
Menjadi milik empu-empunya
Agar tak menjadi doa
dalam perut para pendengarnya

Senja di Telingamu

Kepadamu aku selalu bertanya
Kemana perginya matahari
Sesaat setelah merayap ke ujung paling barat
― jangkauan bola mata kita

Adakah ia bersembunyi? Siapa yang ia takuti?
Adakah ia berhenti? Telah tertemukah yang ia cari?
Bosankah ia menyinari? Sedang esok pagi menyapa penuh gairah kembali.

Kubisikkan ke telingamu sekali lagi.
Seperti matahari di ujung barat,
Kau tak jua menjawab

-te-

Minggu, 16 Agustus 2009

Halahh...

Lho kok?!?!

nggarai kembar ae...

Sabtu, 15 Agustus 2009

Becak!

Sebentar ya Din...
berbicara tentangmu ternyata melelahkan.... semakin dibicarakan, semakin banyak masukan semakin banyak yang dipikir buat dibahas di sini. Pending dulu, kalau berat-berat gitu mending belakangan wae.

karena ada cerita yang lebih asik buat dibicarakan. sebenarnya bukan lebih asyik, cuma lebih ringan. Maaf juga buat pembaca yang nunggu-nunggu (siapa juga?! ge-er...) kelanjutan cerita Nurdin versi saya. Hehe.

Jadi, pas kemarin saya pulang buat cari-cari file-file saya yang bertuah (ini lebih kepada karena barangnya sudah terlalu lama dan usang), tanpa sengaja saya menemukan buku kumpulan tulisan-tulisan saya waktu masih SMA. Nostalgila deh jadinya...

Saya buka satu per satu halamannya, tulisan-tulisan yang lebih condong ke puisi (nah, kalau yang ini lebih karena gaya penulisannya yang berbait-bait) dari pada ke cerpen (ini kalau dilihat dari isinya) ataupun mantra (saya kesulitan menjelaskan bagian ini, maaf :p) itu saya baca kembali. Setiap tulisan yang saya buat, bertanggal dan berkedudukan. Ternyata pencantuman dua hal itu lumayan membantu untuk proses nostalgie macam ni. Semua saya lihat kembali peristiwanya, saya putar kembali memorinya. Kecuali satu yang menyusahkan otak saya untuk mengingat kejadian yang menghamilinya.

Ini dia;

Di atas becak itu

Digenggamnya tanganmu
Tangan yang kubungkus benang sutera, kusirami air bunga

Di atas becak itu
kau sandarkan tubuhmu, diciumnya wajahmu
wajah yang kutaburi daun mint dan Anggrek beraneka warna

Di atas becak itu
Ditatapnya matamu, ditinjunya mesra dagumu
Untuk mata itu, aku mencuri sepasang bintang
Untuk dagu itu, kucucup sari Kamboja

Di atas becak itu, aku diam.
Diam dan mengayuh.

Gresik, 22 Pebruari 2001

Jadi, apa yang sebenarnya saya pikirkan ketika itu, apa yang kebetulan melesak dipikiran saya. Aneh sekali. Bayangkan, saya single, sedang naksir teman satu sekolah tapi tidak sedang cemburu, tapi melahirkan tulisan konyol beraroma cemburu namun santun seperti ini.
Lama. Tapi akhirnya nemu juga. Seingat saya, dulu itu, karena single, sementara teman-teman lain pacaran, saya iseng-iseng ingin juga merasakan sensasinya punya pacar dan berpacaran. Saya bingung memilih sensasi apa yang harus saya rasakan. Setelah berbagai pertimbangan dan perhitungan kemungkinan terjadinya resiko (padhane opo wae..?!) pilihan pun jatuh pada "cemburu". Aneh juga, kenapa kok cemburu yang saya pilih, harusnya kan senengnya pulang bareng, nonton konser berduaan, ke kantin trus nyuri-nyuri gandengan tangan, ngapel malam minggu, atau apapun lah, yang bahagia pokoknya. Saya curiga, karena saya tidak pernah punya pacar jadi saya takut kesulitan kontemplasi. Sementara cemburu sering datang, terutama kalau Sang Pujaan Hati lagi indehoi, mesam-mesem dengan pacarnya. Yang ini sepertinya mendekati benar. :D

Saya pun kontemplasi, ide dasarnya adalah seandainya saya punya mantan pacar yang kemudian putus hubungan dan menjalin hubungan baru dengan orang lain. Tapi kok hasil kontemplasinya saya jadi tukang becak?! Itu yang tidak habis saya pikir. Tapi itu juga mungkin, karena saya suka bercanda dengan sangat ekstrim seperti itu, dulu ketika SMA.

Dan lihat tulisannya! Khas anak SMA. Polos. Tidak ditutup-tutupi.

"Tangan yang kubungkus benang sutera, kusirami air bunga"
.

shaaassh... kenapa juga tangan orang pake disiram air bunga. Mungkin tu orang belum cuci tangan sehabis buang sial di kamar mandi. Karena ngga' nahan baunya, makanya trus disiram air bunga. haha, konyol.

Dan ini,
"wajah yang kutaburi daun mint dan Anggrek beraneka warna"

untung waktu itu saya tidak membayang wajah orang yang saya taburi daun mint dan bunga anggrek. Bisa seminggu lewat dua menit saya terpingkal.

Ah, dasar! Beginilah kalau pemuda tampan nan pemalu terlanjur kepingin jatuh cinta. Cuma bisa naksir dan mengalah. (curcol nih, ceritanya...) :p
Konyol sekali.


-untuk kamu, kamu yang sedang "nekad"-

Selasa, 11 Agustus 2009

Saya Noordin!

Siapa di dalam?
Saya Nurdin!
-------------------------
Sejak itu saya menutup mata, menutup pendengaran dan ngeloyor pergi. Anehnya. mereka masih juga di sana, dengan peluru yang siap meluncur kapan saja pelatuknya ditarik. Berderet-deret, berbaju hitam, berkacamata hitam merk Oakley. Keren! Masuk tivi lagi!
Well, dear Reader.
Masuk akal ga' sih, kalo Itu si Nurdin emang bener-bener Noordin si Enemy of the State? buat saya, engga' banget!

Berikut ini adalah analisis ke-Noordin-an yang iseng-iseng muncul di benak saya.

1. Tempat persembunyian; itu teroris jaman kapan, terus sembunyi di tempat terpencil dan bebas plus mudah terjadi perang terbuka gitu? Seorang penjahat yang cerdas, tentu tahu pasukan jenis apa yang dihadapinya. Tentu saja tempat dengan pertahanan paling baik yang dicari, bukan rumah yang empat penjuru mata anginnya adalah persawahan.
Wak, ini Noordin Wak! Bukan Mat Pelor, si centeng kumpeni!

2. Saya Nurdin!; nah, ini paling konyol dan jelas menggambarkan kalau ini sama sekali bukan Noordin. Lagian pertanyaan "Siapa di dalam?", itu pertanyaan prosedural paling penting untuk dihapuskan. Kalau proses telisik sudah matang, kita pasti tahu siapa saja dibawah atap rumah itu, termasuk berapa jumlahnya, apa saja yang ada di dalamnya. Kok malah tanya siapa di dalam. Kalau saya yang di dalam pasti saya menjawab "Kucing!", atau "Luna Maya", "Ridho Rhoma", "Mbah Surip", "Mario Teguh" atau siapapun. Biar emosi skalian mereka semua yang mengepung.

Sementara dua analisis ini dulu ntar dilanjut kapan-kapan lagi. Ngantuk.

Harusnya ini belum layak tayang, tapi.... gapapa deh...

Sabtu, 04 Juli 2009

I called it reply

Yos sayang…..
Sore itu aku membuka pintu dan menemukan sebuah amplop hitam berukuran sedang di balik pintu kamarku. Ia tak bernama. Sebenarnya sudah lama aku tidak menemukan surat kaleng seperti ini. Kupikir siapa gerangan, tak biasanya ia berwarna hitam. Bukan merah jambu atau biru muda dengan gambar hati di sudut kiri atasnya. Penggemar rahasiaku. Ah, saat seperti ini juga aku masih saja menepuk dada dihadapanmu.
Aku tak langsung membacanya, amplop hitamnya membuatku takut. Kusimpan di dalam lemari dekat cermin rahasia. Ya, cermin itu dalam lemari, karena itu aku menyebutnya cermin rahasia. Tak ada orang yang tahu kalau ada cermin dalam lemariku. Mungkin kau juga tak pernah tahu. Seingatku, setiap kali kau bertandang ke tempatku untuk menonton Si Doel atau Insert kau tak pernah bertanya tentang cermin. Mungkin kau sudah merasa sangat cantik sehingga meski terkena debu jalan, kau tak perlu memperbaiki dandananmu. Memang, Yos. Kau memang cantik. Tapi maaf kalau aku sering meninggalkanmu keluar untuk sekedar menikmati tembakau saat kau bertandang. Dan kau melipat mukamu ketika aku datang kembali. Tentu kau sangat membencinya. Maaf.
Lhah, apa yang sedang kubicarakan ini?! Sangat tidak penting!!!
Maaf, aku tidak fokus.
Jam delapan malam setelah aku menikmati hidangan buka puasaku aku mulai membuka amplop hitam itu. Bibirnya tak direkat dengan lem. Kertasnya bagus, sepertinya rancangan sendiri.
Aku menarik kertas-kertasnya. Empat lembar kertas sisa kertas buku kuliah. Aku membukanya pelan-pelan, coba menerka siapa pengirimnya. Ternyata darimu. Aku kenal tulisannya. Jelek. Ah, tidak, bukan. Aku bercanda. Caramu menulis ‘k’, ‘g’, ‘j’ dan ‘y’ itu sangat khas. Aku tak dapat menjelaskannya, pokoknya khas.
Ditengah membaca aku berhenti untuk menyalakan pemutar musik untuk memainkan Careless Wishper-nya George Michael dan How Deep is Your Love-nya Beegees. Kupikir agar lebih merasuk, seperti yang kau ceritakan. Dan tidak ada guru SMAku yang menganjurkan untuk belajar lewat tengah malam hari. Lewat tengah malam hari hanya untuk berdoa atau bertemu makhluk halus. Haha. Aku bercanda.
Aku setengah duduk di atas kasurku. Kutumpuk bantal dan guling untuk menopang leherku. Aku tak biasa membaca dengan merebahkan badan. Hanya akan melukai mataku yang kau bilang menarik itu. Kini aku tahu, kecuali mataku, yang lainnya adalah adalah sampah. Tak apa. Ternyata Rania benar tentang mataku itu. Maaf aku menyebut nama Rania. Kakak angkatan yang selalu menggangu pikiranmu tentang hubungan kita.
Semoga ia tenang di alamnya sana. ;) Eh, tapi dia kan masih hidup?!

Sangat lama Yos. Waktu perpisahan yang cukup untuk sekali bertanam tebu hingga saat panennya tiba. Saking lamanya, hingga aku lupa bagaimana terakhir aku menggenggam tanganmu. Seperti dirimu, aku sibuk mengurusi bisnis kedua orangtuaku. Mengawasi kontruksi atau merawat jagung, padi dan tebu yang berhektar-hektar luasnya. Dan berusaha menuntaskan sekolahku tentunya.
Aku lelah, Yos. Aku ingin mendengar suaramu. Mengumpulkan kembali ceceran energiku dengannya. Entah mengapa Yos, aku selalu teringat denganmu saat aku lelah. Dan kau selalu mengeluhkan aku tentang itu. Kau bilang aku hanya membutuhkanmu saat aku lelah. Mungkin kau sudah bosan menjadi sandaran hatiku. Sekali lagi maaf.
Tapi aku masih punya cara lain yang lumayan membantuku. Adalah melihat kabarmu, membaca isi hatimu dari tulisan di blogmu atau dari situs jejaring sosial yang sekarang sudah mulai kau abaikan. Sudah bosankah kau memberitahukanku kabarmu?! Tak apa.

Ah, Yos! Kau mengingatku tentang masa itu. Terimakasih. Ini juga harus kau tahu. Tidak ada orang yang membuatku stres dengan perdebatan seperti dengan debatmu, tak ada orang yang ingin kupeluk saat menangis seperti saat kau menangis meski tak pernah kuasa kulakukan, tak ada sikap menjengkelkan yang pernah kurindukan seperti kau yang membanting segala sesuatu didekatmu lalu memintaku untuk mengambilnya kembali, tidak ada, Yos. Oh, ya. Menendang pijakan motor dan memukul-mukul stang kemudi motor termasuk hal menyebalkan yang kurindu padamu. (Ahhh, so sweet...) Konyol.

Aku masih ingat, dulu pernah kau berkata, “Ray, jika kau merindukanku, bicara saja, bintang kan mendengar, maka aku akan merasakannya”. Indah sekali kata-kata itu, meski kumaknai “Berhentilah mencariku”. Sepertinya kau mengambil dari syair lagu.
Aku sering berbicara pada bintang. Sampai sekarang bahkan. Tentangmu, tentang bagaimana aku merindumu. Tapi sepertinya aku berbicara pada bintang yang salah, ia pemalas, tak satupun rinduku yang disampaikannya padamu. Curigaku. Tak apa.

Tentang kebiasaanmu itu, tentang angin yang menghantam sesuatu itu, aku memakluminya. Kau tak perlu resah. Aku juga melakukannya, bukan?! Bahkan dengan mengangkat satu kaki seperti seekor anjing. Kau tertawa tiap kali aku melakukannya. Kecuali, perkara merogoh lubang hidungmu itu aku yang tak sanggup. Menjijikkan. Kalau kau tak percaya cobalah lakukan didepan cerminmu, kau akan tahu mengapa aku sangat mengutuknya.
Ah, Yos, tidak ada yang dapat kau dan aku akomodasikan pada pribadi masing-masing kecuali puisi. Aku pembaca dan kau penulisnya. Kita bertemu pada kedalaman puisi itu sendiri. Aku menikmatinya, entah denganmu.

Belakangan kudengar dari seorang kawan, kau telah bersama orang baru. Prestatif. Ah, tidak, prestatif bukan nama orang. Tapi hidupmu yang prestatif. Aku mengangkat topi karenanya. Mungkin dorama-mu lebih apresiatif dengan dirinya yang konon sangat manga. Mungkin memang epic Gatotkaca, Arya Kamandanu, dan Gajahmadaku terpisah terlalu jauh dengan modernitas keduanya.
Yos, aku melihat hatimu kini sedang meloncat-loncat kegirangan, seperti seekor monyet (kenapa harus monyet, sih?!) yang menangkap lemparan pisang atau kacang. Aih, kau bahagia rupanya. Aku lega.
Kini aku mampu memaknai kalimatmu; “berbahagialah, karena aku juga akan bahagia”. Inikah yang kau maksud dengan “akan”-mu itu?!, jika demikian, aku menangkapnya.

Baiklah, Yos. Ini perpisahan. Sebenar-benarnya perpisahan. Entah di mana ujungnya. Aku enggan mencarinya, karena mungkin kau sangat tak mau ia berujung. Dan pertemuan-pertemuan diantara kau dan aku nantinya adalah karena kebetulan dan percakapan diantaranya adalah basabasi. Maaf, Yos, tubuhku penuh luka oleh tanganku sendiri, tak mungkin ada tempat lagi untuk kau menambahkannya dengan yang baru.

Lia...( kalau tidak salah, seperti ini kawan-kawanmu memanggil namamu)
Mari lupakan janji kita untuk bertemu di masadatang. Kau pun boleh pindahtangan-kan rumah itu. Untuk menjadi rumah bagi orang lain, agar ia rasai teduhnya hatimu, lembutnya perlakuanmu. Entah aku akan selamanya mengembara (sehh, mengembara bo’?!), atau akan menemu rumah untuk hati ini kelak nanti. Aku kan lupakan janjimu untuk menantiku. Aku tak dapat lagi pulang, kini. Rumah itu penuh sesak dengan mimpi-mimpi dan khayalanmu. Dan dia tentunya. Eh, siapa?! Farid?! Aku tak mengenalnya.
Tinggal kutunggu undangan yang mungkin tak kuasa aku hadiri dari Yos Anneke Rusmalia, dirimu. Kau tahu Lia?, aku merasakan energi kalian. Tak lebih dari enam bulan sejak hari kalian bersama, dia akan melamarmu dan tiga bulan berikutnya kalian akan menikah. Kita lihat saja ramalanku ini. Aku tak akan mencarimu selama perpisahan ini berlangsung, jadi kau tak perlu lagi beralasan menemani ibumu jika kau enggan bercakap denganku. Aku akan ada dalam kedalamanku sendiri, tempat yang aku biasa ceritakan padamu.

Sekian Lia, bedug subuh memanggilku. Aku harus pergi. Tetaplah menjadi dirimu yang cerdas, suci, polos, dan tak terjamah. Satu lagi, dan mulailah belajar kentut didepan kekasihmu itu. Seperti aku, dia akan mencintai kebiasaanmu itu.

Que tu me manques, perempuan suciku. (sebenarnya aku juga tak tahu artinya kalimat ini)


Atasnama tembakau dan kopi yang kau kutuk selalu,

Remba Adhitama Yudian.


NB: sampai jumpa kembali, nanti, entah pada panen tebu yang ke berapa.

Senin, 29 Juni 2009

Terimakasih Madley

Seperti katamu Mad, menterjemahkan maumu. Mengejawantahkan langkahmu.

"Aku kan semerbak membuat wangi tanah,
aku kan gemerlap menerangi air"


Izinkan aku menapaki bekas langkahmu.

-sahabatmu-

Jumat, 26 Juni 2009

I am back!

Aku telah siap kembali. Sakit hati hanyalah makhluk yang akan membuatku memenuhi halaman ini. Hati milik Tuhan, ia hanya akan melukaimu sesaat. Aku percaya itu.
Kakiku masih menginjak tanah, saat dirundung luka.
Terimakasih untuk semua makhluk. Syukurku kepada Tuhan telah menghadirkannya menemaniku. Terimakasih kejujuran, terimakasih kepercayaan, terimakasih gelak tawa, terimakasih wanita, terimakasih pria, terimakasih tipu daya, terimakasih cahaya, airmata, tembakau, kopi, kentut, upil, begadang, amarah, birahi, cumburayu, internet, ponsel, motor, bantal, kasur dan semua keajaiban lain yang bersamaku.

Aku hirup udara, seperti tarikan sebelumnya
Hidungku tak luka, tak berdarah
Meski pekat, dan sesak di dada
Ini adalah karunia.