Seisi rumah telah bersiap-siap. Semua gordyn dan kelambu sudah tenggelam dalam bak rendaman air sabun sejak pagi tadi. Rak-rak buku dibersihkan dan ditata. Sapu bertongkat panjang dijulurkan untuk menertibkan bangunan-bangunan liar di tiap sudut plafon rumah. Termasuk kolong tempat tidur, bawah kursi, belakang lemari, juga kipas angin. Bukan apa-apa, hanya untuk menyambut Ramadhan. Sudah itu mereka boleh mendirikan, atau lebih tepatnya menyangkutkan rumah mereka kembali.
Taplak meja baru berwarna peach dengan bordir ornamen kubikal asimetri yang unik menutupi pudar warna politur meja tua kami. Kursi dan karpet divacuum, kaca-kaca dilap, lantai disapu dan dipel, bufet dipajangi guci-guci antik ibu. Gelas, piring, sendok dan garpu dicuci kembali.
Siang itu aku baru pulang dari salon. Spa, mandi susu, meni-pedi, kramas, catok rambut, dan apapun yang berwaskita untuk membuatku tampil cantik menjelang tarawih nanti. Adikku, Zulfikar, berhenti menebahi karpet setelah mendengarku bersin-bersin dibelakangnya.
“Baginda Ratu sudah pulang?”. “Maafkan hamba yang telah membuat baginda bersin-bersin”, ia mengolokku.
“Ah, kamu, Fik”. Aku menepuk punggungnya.
“Yawis, itu, di kamar kakak ada titipan dari bulik. Jilbab”
Aku berlalu, bergegas menjumpa jilbab kiriman bulik.
Jalanku cepat, sesekali melompat.
***
Riuh isi rumah berganti suara adzan. Ashar!. Aku menuju kamar mandi, mengambil air wudhlu. “Marhaban, ya Ramadhan”, begitu aku meng-update status facebook dan twitter-ku seusai sholat. Lalu berbalas komentar dengan teman-temanku di sana. Sebagian mereka berpuisi, berpantun, dan ada pula yang biasa saja sepertiku. Apapun itu, bagiku tiap orang memiliki Ramadhan mereka sendiri, dengan hati dan isi kepala mereka. Aku, Ramadhanku adalah hasrat. Demikianlah aku perlakukan, kuizinkan meluap-luap di hati, bergemuruh di pikiran, tapi tetap tenang dan datar di permukaan. Hanya akan kupertontonkan kepada mereka yang aku perbolehkan.
Laptop kubiarkan menyala dengan modem yang masih aktif melalu-lalangkan data. Sambil aku memilih-milih pakaian, aku masih tetap bisa mengawasinya. Memilih pakaian menjadi perkara yang rumit sejak kandunganku sudah memasuki minggu keenam. Tubuhku pun terlihat lebih gemuk dengan punggung, paha, dan lengan yang kurasa sudah agak memuai. Tinggal beberapa pasang baju yang kubeli dari Omara yang sepertinya masih cukup untuk badanku. Itupun sudah beberapa kali kupakai.
Suara ketukan muncul dari balik pintu kamarku. Ketukan lembut dengan ujung kuku itu hanya Zulfikar yang mempraktekkannya di rumah ini.
“Kak, pesanan gula, minyak dan beras kakak sudah datang”
“Iya!!, Suruh mereka masukkan ke mobil kakak!”. Aku mengambil uang tip dari dompet lalu meninggalkan kamar.
“Fik, cepat ganti baju! Sebentar lagi kita ke panti”.
Aku tak lagi mandi, cukup cuci muka, gosok gigi, dan menyisir rambut.
***
Biasanya, setelah tanda bergantinya hari menuju hari pertama bulan puasa, keluarga kami menjalankan tradisi megengan*. Tetapi karena ibu sudah pulang ke surabaya, aku hanya mengupacarainya dengan membagikan nasi kotak kepada orang-orang yang hidup di tepi jalan. Peran itu sepenuhnya diambil alih oleh Pak Harjo, penjaga rumah kami, dan Pak Mangun, supir pribadiku.
Saat mereka berangkat aku masih sibuk mencentangi daftar doa-doa. Yang sebagian juga untuk mereka. Juga untuk malam yang sebentar lagi menyergap, untuk lapar dan dahagaku esok, juga untuk Kirgyztan, semoga negeri itu aman.
Sebuah pesan singkat dari suamiku, ia tak bisa langsung ke rumah karena harus melapor ke dinas. Aku tak langsung membalas, sebab anganku melambung ke langit, menembus mega-mega, menyelinap melalui pori-pori lambung pesawat, mengingat kembali sebuah sketsa yang menjengkelkan tiga bulan lalu. Seorang pramugari maskapai langganan kedinasannya menyapa suamiku dengan genit, dan bagian yang menyebalkannya adalah ketika suamiku membalasnya dengan sangat renyah. Padahal kami sedang akan menuju Losari, pantai tempat pengantin baru biasa mengandaskan gula-gula surga. “Aku cemburu, pada renyahmu yang semestinya hanya untukku”, dalam hatiku. Sekali lagi aku memohon ampun pada Tuhan atas lancangnya pikiranku.
Aku tak pergi kesurau, tarawih di rumah, delapan rekaat. Pikiranku tak tenang, tak sabar, beberapa kali aku berjalan melewati pagar, lalu mengawasi jalan. Harusnya maghrib tadi ia sudah di pintu, menyambut pelukku. Tapi hingga jamaah tarawih sudah menjejali surau, mobil plat merah itu tak kunjung tiba.
Aku coba menelepon ponselnya, mati. Aku menelepon ke dinas, katanya mampir cuma sebentar dan sudah pulang. Aku menelepon supir suamiku, ia bilang suamiku naik taksi, tidak mau naik mobil dinas malam-malam, dalihnya. Gawat!. Aku gelisah, mengambil kembali mukenah, mengadu pada Tuhan. Pintu kamar kubiarkan terbuka agar sesekali aku bisa merasai ketika suamiku sudah melewati ruang depan.
Tubuh berkulit dingin karena titik-titik air masih menempel dibadan mendekapku dari belakang. Wangi Kenzo yang lembut nan segar tampak baru saja disemprotkan. Meraba perutku lalu mengencangkan peluk, ia bersyukur. Seperti polisi yang menangkap penjahat ia bermain peran, “Jangan bergerak, anda sudah dikepung!”, bisiknya ke telingaku. Aku tak berkutik, tak juga mengengok ke belakang. Menangis lega. Takut terkena pasal “melawan saat ditangkap”, aku pasrah dikeler naik ke peraduan.
“Ayo, kita bikin kembarannya!”. Ia menutup pintu kamar.
Ah, Mas Ramadhan, kau masih tetap lucu.
Dua bulan, Kirgyztan tepat janji. Membawa pulang Ramadhan, Ramadhanku.
-te-
*megengan: tradisi mengadakan selamatan sebagai rasa syukur telah kembali dipertemukan dengan Bulan Ramadhan. Biasanya mengundang warga sekitar untuk berdoa dan makan-makan bersama.
Taplak meja baru berwarna peach dengan bordir ornamen kubikal asimetri yang unik menutupi pudar warna politur meja tua kami. Kursi dan karpet divacuum, kaca-kaca dilap, lantai disapu dan dipel, bufet dipajangi guci-guci antik ibu. Gelas, piring, sendok dan garpu dicuci kembali.
Siang itu aku baru pulang dari salon. Spa, mandi susu, meni-pedi, kramas, catok rambut, dan apapun yang berwaskita untuk membuatku tampil cantik menjelang tarawih nanti. Adikku, Zulfikar, berhenti menebahi karpet setelah mendengarku bersin-bersin dibelakangnya.
“Baginda Ratu sudah pulang?”. “Maafkan hamba yang telah membuat baginda bersin-bersin”, ia mengolokku.
“Ah, kamu, Fik”. Aku menepuk punggungnya.
“Yawis, itu, di kamar kakak ada titipan dari bulik. Jilbab”
Aku berlalu, bergegas menjumpa jilbab kiriman bulik.
Jalanku cepat, sesekali melompat.
***
Riuh isi rumah berganti suara adzan. Ashar!. Aku menuju kamar mandi, mengambil air wudhlu. “Marhaban, ya Ramadhan”, begitu aku meng-update status facebook dan twitter-ku seusai sholat. Lalu berbalas komentar dengan teman-temanku di sana. Sebagian mereka berpuisi, berpantun, dan ada pula yang biasa saja sepertiku. Apapun itu, bagiku tiap orang memiliki Ramadhan mereka sendiri, dengan hati dan isi kepala mereka. Aku, Ramadhanku adalah hasrat. Demikianlah aku perlakukan, kuizinkan meluap-luap di hati, bergemuruh di pikiran, tapi tetap tenang dan datar di permukaan. Hanya akan kupertontonkan kepada mereka yang aku perbolehkan.
Laptop kubiarkan menyala dengan modem yang masih aktif melalu-lalangkan data. Sambil aku memilih-milih pakaian, aku masih tetap bisa mengawasinya. Memilih pakaian menjadi perkara yang rumit sejak kandunganku sudah memasuki minggu keenam. Tubuhku pun terlihat lebih gemuk dengan punggung, paha, dan lengan yang kurasa sudah agak memuai. Tinggal beberapa pasang baju yang kubeli dari Omara yang sepertinya masih cukup untuk badanku. Itupun sudah beberapa kali kupakai.
Suara ketukan muncul dari balik pintu kamarku. Ketukan lembut dengan ujung kuku itu hanya Zulfikar yang mempraktekkannya di rumah ini.
“Kak, pesanan gula, minyak dan beras kakak sudah datang”
“Iya!!, Suruh mereka masukkan ke mobil kakak!”. Aku mengambil uang tip dari dompet lalu meninggalkan kamar.
“Fik, cepat ganti baju! Sebentar lagi kita ke panti”.
Aku tak lagi mandi, cukup cuci muka, gosok gigi, dan menyisir rambut.
***
Biasanya, setelah tanda bergantinya hari menuju hari pertama bulan puasa, keluarga kami menjalankan tradisi megengan*. Tetapi karena ibu sudah pulang ke surabaya, aku hanya mengupacarainya dengan membagikan nasi kotak kepada orang-orang yang hidup di tepi jalan. Peran itu sepenuhnya diambil alih oleh Pak Harjo, penjaga rumah kami, dan Pak Mangun, supir pribadiku.
Saat mereka berangkat aku masih sibuk mencentangi daftar doa-doa. Yang sebagian juga untuk mereka. Juga untuk malam yang sebentar lagi menyergap, untuk lapar dan dahagaku esok, juga untuk Kirgyztan, semoga negeri itu aman.
Sebuah pesan singkat dari suamiku, ia tak bisa langsung ke rumah karena harus melapor ke dinas. Aku tak langsung membalas, sebab anganku melambung ke langit, menembus mega-mega, menyelinap melalui pori-pori lambung pesawat, mengingat kembali sebuah sketsa yang menjengkelkan tiga bulan lalu. Seorang pramugari maskapai langganan kedinasannya menyapa suamiku dengan genit, dan bagian yang menyebalkannya adalah ketika suamiku membalasnya dengan sangat renyah. Padahal kami sedang akan menuju Losari, pantai tempat pengantin baru biasa mengandaskan gula-gula surga. “Aku cemburu, pada renyahmu yang semestinya hanya untukku”, dalam hatiku. Sekali lagi aku memohon ampun pada Tuhan atas lancangnya pikiranku.
Aku tak pergi kesurau, tarawih di rumah, delapan rekaat. Pikiranku tak tenang, tak sabar, beberapa kali aku berjalan melewati pagar, lalu mengawasi jalan. Harusnya maghrib tadi ia sudah di pintu, menyambut pelukku. Tapi hingga jamaah tarawih sudah menjejali surau, mobil plat merah itu tak kunjung tiba.
Aku coba menelepon ponselnya, mati. Aku menelepon ke dinas, katanya mampir cuma sebentar dan sudah pulang. Aku menelepon supir suamiku, ia bilang suamiku naik taksi, tidak mau naik mobil dinas malam-malam, dalihnya. Gawat!. Aku gelisah, mengambil kembali mukenah, mengadu pada Tuhan. Pintu kamar kubiarkan terbuka agar sesekali aku bisa merasai ketika suamiku sudah melewati ruang depan.
Tubuh berkulit dingin karena titik-titik air masih menempel dibadan mendekapku dari belakang. Wangi Kenzo yang lembut nan segar tampak baru saja disemprotkan. Meraba perutku lalu mengencangkan peluk, ia bersyukur. Seperti polisi yang menangkap penjahat ia bermain peran, “Jangan bergerak, anda sudah dikepung!”, bisiknya ke telingaku. Aku tak berkutik, tak juga mengengok ke belakang. Menangis lega. Takut terkena pasal “melawan saat ditangkap”, aku pasrah dikeler naik ke peraduan.
“Ayo, kita bikin kembarannya!”. Ia menutup pintu kamar.
Ah, Mas Ramadhan, kau masih tetap lucu.
Dua bulan, Kirgyztan tepat janji. Membawa pulang Ramadhan, Ramadhanku.
-te-
*megengan: tradisi mengadakan selamatan sebagai rasa syukur telah kembali dipertemukan dengan Bulan Ramadhan. Biasanya mengundang warga sekitar untuk berdoa dan makan-makan bersama.