Setelah rabu-kamis yang melelahkan ini kusapa lagi kau...
Kau bisa bertahan, bukan?!
sayang kamu, diaryku...
Senin, 21 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
Ndak masuk...
Walah, kota yang dingin...
maaf ndak jadi menemuimu. Bukan karena tuanmu ndak setuju, bukan. Aku tumbang, setelah melewati rabu-kamis yang menguras tenaga.
Mari kita coba lagi, esok, lusa atau di lain hari.
slurp... slurp... :)
maaf ndak jadi menemuimu. Bukan karena tuanmu ndak setuju, bukan. Aku tumbang, setelah melewati rabu-kamis yang menguras tenaga.
Mari kita coba lagi, esok, lusa atau di lain hari.
slurp... slurp... :)
Hehe...
hehehe...
hihihihi...
gembira aku...
gembira ria...
pokoke gembira ae...
blog-ku kyk diary...
ndak enek wong sing ngerti...
hihihihi...
gembira aku...
gembira ria...
pokoke gembira ae...
blog-ku kyk diary...
ndak enek wong sing ngerti...
Rabu, 16 Desember 2009
Ignore, abort or delay?
Kau tak mengenalku
Rembulan enambelas desember ini tak sempurna
Aku mengenal waktumu
Untukku, setelah CSI
Aku disana
Kau tak ada
Aku tau kau tak tersesat
Kau sendiri pemetanya
Mungkin kau sibuk
Mungkin aku tak di hati.
Mungkin juga kau lupa
Lupa caraku...
buon compleano senorita...
-te, suroboyo, 16 Desember 2009-
Rembulan enambelas desember ini tak sempurna
Aku mengenal waktumu
Untukku, setelah CSI
Aku disana
Kau tak ada
Aku tau kau tak tersesat
Kau sendiri pemetanya
Mungkin kau sibuk
Mungkin aku tak di hati.
Mungkin juga kau lupa
Lupa caraku...
buon compleano senorita...
-te, suroboyo, 16 Desember 2009-
Selasa, 15 Desember 2009
18.56
Hujan yang kurindu tiba
Petir garang menyapa
Mereka, para pecintanya
Aku abai
Membopong pena berjalan tertatih
Meniti tiap baris buku agenda
karena guncang di dada
Makin nyata kurasa
Dua lagu kuputar bergantian
Cinta terakhir Gigi
dan Sheila Madjid kesukaan
yang aku terlupa judulnya
Agar sempurna tatanan
Agar sempurna Keadaan
HP mini note malas kujamah
Tradisional saja.
Telungkupku, boneka Happy feet, bantal, karpet abu-abu,
---- pilot hitam, agenda, dan kau.
Kureka gambar Jumat depan menjelang petang
Disebuah air terjun kotamu
Tiga hari menjelang
Esok malam kubuat janji itu,
Denganmu.
Semoga kau tak berkebaratan.
Kau dan kotamu yang dingin, apa kabar?
Aku kan datang.
Tak perlu bendera atau karpet merah
Sederhana saja...
Sepertiku.
Petir garang menyapa
Mereka, para pecintanya
Aku abai
Membopong pena berjalan tertatih
Meniti tiap baris buku agenda
karena guncang di dada
Makin nyata kurasa
Dua lagu kuputar bergantian
Cinta terakhir Gigi
dan Sheila Madjid kesukaan
yang aku terlupa judulnya
Agar sempurna tatanan
Agar sempurna Keadaan
HP mini note malas kujamah
Tradisional saja.
Telungkupku, boneka Happy feet, bantal, karpet abu-abu,
---- pilot hitam, agenda, dan kau.
Kureka gambar Jumat depan menjelang petang
Disebuah air terjun kotamu
Tiga hari menjelang
Esok malam kubuat janji itu,
Denganmu.
Semoga kau tak berkebaratan.
Kau dan kotamu yang dingin, apa kabar?
Aku kan datang.
Tak perlu bendera atau karpet merah
Sederhana saja...
Sepertiku.
Minggu, 13 Desember 2009
Menemani Mama
Kau jatuh cinta
Aku tak menyapa
Karena akan sia-sia
Kau jatuh cinta
Aku tak punya alasan untuk menyapa
Kecuali pada suatu malam
Di enambelas Desember yang sempurna
Kau jatuh cinta
Mungkin tak lagi sama
Tata bahasa ataupun aksentualisasinya
Kau jatuh cinta
Bila tak suka, semoga kau tak lupa
Jurus terjitu menghentikanku...
Seperti yang telah sudah...
-te, soerabaia, 13 Dec '09-
Aku tak menyapa
Karena akan sia-sia
Kau jatuh cinta
Aku tak punya alasan untuk menyapa
Kecuali pada suatu malam
Di enambelas Desember yang sempurna
Kau jatuh cinta
Mungkin tak lagi sama
Tata bahasa ataupun aksentualisasinya
Kau jatuh cinta
Bila tak suka, semoga kau tak lupa
Jurus terjitu menghentikanku...
Seperti yang telah sudah...
-te, soerabaia, 13 Dec '09-
Sabtu, 12 Desember 2009
Kena Kau!
Sabtu malam tak lazim
Aku tak keluar rumah
Untuk turun ke pinggir pasar
menikmati asap bersama kawan-kawan...
Aku bermain kartu sambil berbagi dongeng
Dengan kawan sepermainan
Di kedai depan seberang gang
Truff bukan cap sa, remi, atau lintrik
Dimainkan seperti biasa
Seorang kawan membawa dongen
Dari pesta di sabtu yang seharusnya aku menyertainya
Tentangmu...
ah, bukan
Tentang lelaki...
Berperawakan ceking,
Berkulit kuning,
Sedikit lebih tinggi dariku...
Lelaki...
Yang langkahnya kau turut
Karenanya rekah senyummu
terbaca gembira...
Aku pun ingin tahu
Seberapa aneh gaunmu
Yang mungkin juga karena ia kau berdandan
Tidak seperti karenaku*
Harusnya aku mengenal
Kamu ataupun dia
Mungkin dekat, mungkin sekedar nama
Tapi biar wajar saja,
aku menikmatinya
01.00 kembali 'tuk tengkurapi tulisan
Teringat kembali Colbie Calliat dan CDnya yang kau beli untuk sebuah lagu di dalamnya.
Mungkin ada kaitannya...
-untukmu juga hatimu yg kini bagiku keduanya sama sekali asing-
* kutipan cerita:
"Gel, macake waneh... gak koen banget lah..."
Aku tak keluar rumah
Untuk turun ke pinggir pasar
menikmati asap bersama kawan-kawan...
Aku bermain kartu sambil berbagi dongeng
Dengan kawan sepermainan
Di kedai depan seberang gang
Truff bukan cap sa, remi, atau lintrik
Dimainkan seperti biasa
Seorang kawan membawa dongen
Dari pesta di sabtu yang seharusnya aku menyertainya
Tentangmu...
ah, bukan
Tentang lelaki...
Berperawakan ceking,
Berkulit kuning,
Sedikit lebih tinggi dariku...
Lelaki...
Yang langkahnya kau turut
Karenanya rekah senyummu
terbaca gembira...
Aku pun ingin tahu
Seberapa aneh gaunmu
Yang mungkin juga karena ia kau berdandan
Tidak seperti karenaku*
Harusnya aku mengenal
Kamu ataupun dia
Mungkin dekat, mungkin sekedar nama
Tapi biar wajar saja,
aku menikmatinya
01.00 kembali 'tuk tengkurapi tulisan
Teringat kembali Colbie Calliat dan CDnya yang kau beli untuk sebuah lagu di dalamnya.
Mungkin ada kaitannya...
-untukmu juga hatimu yg kini bagiku keduanya sama sekali asing-
* kutipan cerita:
"Gel, macake waneh... gak koen banget lah..."
Jumat, 11 Desember 2009
Menanti periuk pecah
Malam langit merah, menanti hujan pecah
Dari periuk terhantam petir dan gemuruh suara
Kapan saja.
Di tanah lutut kutanam
Kepada Tuhan gemeretak doaku sirri
"Segerakan guyurMu"
Agar daun-daun dan tanah basah
Agar lututku ringan tercerabut
Agar tak berat langkah memercik
"Yang rapat sekalian"
Biar pungkas segala gelisah
Biar tandas ramal kutelan
Biar tak mampu kutebak,
Air yang dikecap lidah nanti
Jatuh dari langit,
atau dari mata
****** ****
:)
-te, soerabaia,11 Desember 2009-
Dari periuk terhantam petir dan gemuruh suara
Kapan saja.
Di tanah lutut kutanam
Kepada Tuhan gemeretak doaku sirri
"Segerakan guyurMu"
Agar daun-daun dan tanah basah
Agar lututku ringan tercerabut
Agar tak berat langkah memercik
"Yang rapat sekalian"
Biar pungkas segala gelisah
Biar tandas ramal kutelan
Biar tak mampu kutebak,
Air yang dikecap lidah nanti
Jatuh dari langit,
atau dari mata
****** ****
:)
-te, soerabaia,11 Desember 2009-
Senin, 07 Desember 2009
Awkward
Aku kembali menemui sunyi. Kali ini tak lagi remang yang kupilih menemani. Aku memilih gelap gulita. Aku duduk menundukkan kepala, menduplikasi diri. Sengaja aku tak mengundang Tuhan, karena aku selalu malu ketika perlu melibatkan Tuhan untuk urusan remeh temeh semacam ini. Meskipun sejatinya aku sangat perlu.
Aku dudukkan replikaku dengan posisi yang sama, saling hadap denganku. Dan mulailah aku bercakap dengannya. Aku bercerita banyak hal padanya, mengenai rindu, hujan, kemarau, petang dan juga pelukan. Ia tak banyak bicara, “terus” “lalu” “ya, ya?!” “hmmm”, hanya itu. Lalu tersenyum sepanjang ceritaku. Aku juga bercerita tentangmu, tentang kita yang saling mengalihkan pandangan ketika mata-mata kita bertumbukan, tentang cakap kita yang tak saling pandang, tentang kekakuan yang coba kita lunturkan dengan kebasabasian, tentang rindu yang kau dan aku coba tuntaskan.
Meski terlihat acuh dengan membuka-tutup ponselnya, memainkan lagu-lagu Padi di laptopnya tapi aku tahu ia tetap tulus mendengar ceritaku. Ia tertawa mendengarku bercerita bahwa kedatanganmu memperbaiki peruntunganku. Terbahak. Konyol katanya. Ah, dia lucu, bukan. Dan aku juga bercerita tentang perjalanan mengantarmu pulang. Tentang romantisme yang menjadi keunggulan motor ketimbang mobil. Tentang aku yang memintamu memelukku mendekati tikungan terakhirnya.
“Aku merasai segalanya”, kubilang.
“Kau tahu, dan ia pun membenamkan wajahnya kepundakku”, tambahku.
"Bukan raganya yang memelukku, tapi hatinya”, aku tak berhenti.
Ia terkekeh. Semakin lama kekehnya semakin keras, lalu ia menangis. Untukku.
“Kau bisa merangkum pesan yang disampaikan dalam peluknya itu?”, tanyanya.
“Ya”. Jawabku.
“Apa?” kembali ia bertanya.
“Aku mencintaimu, apapun itu, kapanpun” aku meyakinkan dia.
“Salah”. Seringainya menggiringku bertanya.
“Lalu?” aku balik bertanya.
“Tidakkah kau rasa itu pelukan yang dia berikan kepadamu untuk terakhir kalinya? Tidakkah kau rasai bahwa pelukan itu adalah sesuatu yang akan ia ingat bukan sesuatu yang akan ia ulangi? Bukankah sudah kau takutkan bahwa akan ada hati lain yang memikatnya?”
“khkhkhkhkh....”
“Hahahaha....”
Aku muntab, marah dengan ketidakmampuanku mewujudkan hatiku melekat dihatimu. Kutendang dadanya, ia terjengkang. Aku menerkamnya lalu ia pun lenyap, menyatu kembali dalam tubuhku.
Aku mengumpatnya dalam hati.
Pelan-pelan kurasai lubang hidungku memberat dan melebar, basah. Katung mataku juga lebih berat, bola mataku mengkilat berkaca-kaca. Persis seperti ketika kau labuhkan peluk dan wajahmu di pundakku.
nb: aku suka keganjilan ini, sesak di dada tapi membuatku lancar menulis, semoga berpengaruh baik pada skripsiku... :)
Aku dudukkan replikaku dengan posisi yang sama, saling hadap denganku. Dan mulailah aku bercakap dengannya. Aku bercerita banyak hal padanya, mengenai rindu, hujan, kemarau, petang dan juga pelukan. Ia tak banyak bicara, “terus” “lalu” “ya, ya?!” “hmmm”, hanya itu. Lalu tersenyum sepanjang ceritaku. Aku juga bercerita tentangmu, tentang kita yang saling mengalihkan pandangan ketika mata-mata kita bertumbukan, tentang cakap kita yang tak saling pandang, tentang kekakuan yang coba kita lunturkan dengan kebasabasian, tentang rindu yang kau dan aku coba tuntaskan.
Meski terlihat acuh dengan membuka-tutup ponselnya, memainkan lagu-lagu Padi di laptopnya tapi aku tahu ia tetap tulus mendengar ceritaku. Ia tertawa mendengarku bercerita bahwa kedatanganmu memperbaiki peruntunganku. Terbahak. Konyol katanya. Ah, dia lucu, bukan. Dan aku juga bercerita tentang perjalanan mengantarmu pulang. Tentang romantisme yang menjadi keunggulan motor ketimbang mobil. Tentang aku yang memintamu memelukku mendekati tikungan terakhirnya.
“Aku merasai segalanya”, kubilang.
“Kau tahu, dan ia pun membenamkan wajahnya kepundakku”, tambahku.
"Bukan raganya yang memelukku, tapi hatinya”, aku tak berhenti.
Ia terkekeh. Semakin lama kekehnya semakin keras, lalu ia menangis. Untukku.
“Kau bisa merangkum pesan yang disampaikan dalam peluknya itu?”, tanyanya.
“Ya”. Jawabku.
“Apa?” kembali ia bertanya.
“Aku mencintaimu, apapun itu, kapanpun” aku meyakinkan dia.
“Salah”. Seringainya menggiringku bertanya.
“Lalu?” aku balik bertanya.
“Tidakkah kau rasa itu pelukan yang dia berikan kepadamu untuk terakhir kalinya? Tidakkah kau rasai bahwa pelukan itu adalah sesuatu yang akan ia ingat bukan sesuatu yang akan ia ulangi? Bukankah sudah kau takutkan bahwa akan ada hati lain yang memikatnya?”
“khkhkhkhkh....”
“Hahahaha....”
Aku muntab, marah dengan ketidakmampuanku mewujudkan hatiku melekat dihatimu. Kutendang dadanya, ia terjengkang. Aku menerkamnya lalu ia pun lenyap, menyatu kembali dalam tubuhku.
Aku mengumpatnya dalam hati.
Pelan-pelan kurasai lubang hidungku memberat dan melebar, basah. Katung mataku juga lebih berat, bola mataku mengkilat berkaca-kaca. Persis seperti ketika kau labuhkan peluk dan wajahmu di pundakku.
"Hujan sehari menghapus kemarau sepanjang tahun"
"Lalu apa arti basahnya tanah, lembabnya udara, dinginnya cuaca, titik-titik air di ujung dedaunan menjuntai sore ini jika esok kemarau menggilas lebih trengginas?"
nb: aku suka keganjilan ini, sesak di dada tapi membuatku lancar menulis, semoga berpengaruh baik pada skripsiku... :)
Langganan:
Postingan (Atom)