Di sini,
meski engkau benar-benar enggan...
-untuk yos-
Jumat, 11 September 2009
Selasa, 01 September 2009
Parah....
Wah tulisanku semakin ga mbentuk nih...
Pasti gara-gara kebanyakan nulis esai dan cerpen yang gak pernah kelar. Padahal ide ada, rancangan pre dan pos kausa sudah siap, tapi waktu mulai nulis... iki... STUCK! Perlu belajar lagi nih... Gak enak banget kalo susah nulis gini. Padahal tulisanku juga gak pernah bagus. hehe.
Jadi inget sama seseorang deh... suka baca-baca tulisan dia, jadi sering ada inspirasi sesudahnya. Kadang nunjukin dukungan ato malah bikin teori penolakan, pokoknya inspiratif.(semoga dia g pernah baca ni blog, nggarai isin, punya orang jehh...)
Haha...
Semoga kau baik slalu...
It's been a while...
Pasti gara-gara kebanyakan nulis esai dan cerpen yang gak pernah kelar. Padahal ide ada, rancangan pre dan pos kausa sudah siap, tapi waktu mulai nulis... iki... STUCK! Perlu belajar lagi nih... Gak enak banget kalo susah nulis gini. Padahal tulisanku juga gak pernah bagus. hehe.
Jadi inget sama seseorang deh... suka baca-baca tulisan dia, jadi sering ada inspirasi sesudahnya. Kadang nunjukin dukungan ato malah bikin teori penolakan, pokoknya inspiratif.(semoga dia g pernah baca ni blog, nggarai isin, punya orang jehh...)
Haha...
Semoga kau baik slalu...
It's been a while...
Menahan Doa
Aku menulis ramalan
Tak kuhitung, mungkin belasan atau ratusan
Tentangmu
Pada telapak tanganku
Kumudian kucelupkan dalam mangkuk
Berisi air telaga Sarangan
Untuk kuminum sesudahnya
Biar hanya aku
Tak perlu kau atau orang lain tahu
Demikan harusnya ramalan diperlakukan
Menjadi milik empu-empunya
Agar tak menjadi doa
dalam perut para pendengarnya
Tak kuhitung, mungkin belasan atau ratusan
Tentangmu
Pada telapak tanganku
Kumudian kucelupkan dalam mangkuk
Berisi air telaga Sarangan
Untuk kuminum sesudahnya
Biar hanya aku
Tak perlu kau atau orang lain tahu
Demikan harusnya ramalan diperlakukan
Menjadi milik empu-empunya
Agar tak menjadi doa
dalam perut para pendengarnya
Senja di Telingamu
Kepadamu aku selalu bertanya
Kemana perginya matahari
Sesaat setelah merayap ke ujung paling barat
― jangkauan bola mata kita
Adakah ia bersembunyi? Siapa yang ia takuti?
Adakah ia berhenti? Telah tertemukah yang ia cari?
Bosankah ia menyinari? Sedang esok pagi menyapa penuh gairah kembali.
Kubisikkan ke telingamu sekali lagi.
Seperti matahari di ujung barat,
Kau tak jua menjawab
-te-
Kemana perginya matahari
Sesaat setelah merayap ke ujung paling barat
― jangkauan bola mata kita
Adakah ia bersembunyi? Siapa yang ia takuti?
Adakah ia berhenti? Telah tertemukah yang ia cari?
Bosankah ia menyinari? Sedang esok pagi menyapa penuh gairah kembali.
Kubisikkan ke telingamu sekali lagi.
Seperti matahari di ujung barat,
Kau tak jua menjawab
-te-
Langganan:
Postingan (Atom)