Kepadamu aku ikhlas
Untuk hanya mencinta,
tanpa perlu menyandingmu
Untuk hanya menatap,
tanpa perlu memeluk atau menggandeng tanganmu
Untuk satu atau seribu luka karenamu
Untuk setetes atau sedanau airmata
pada senyummu.
Kamis, 18 September 2008
Langit Ramadhan
Rasanya malam itu sungguh berbeda. Entah dari pancar rembulan, banyaknya orang yang keluar rumah pada malam itu, atau suara bacaan Al-Quran dari ponpes dekat tempat tinggal, yang menghadirkan rasa khidmat dalam hati saya. Malam itu, menjemput 17 ramadhan, menundukkan hati saya pada kecintaan terhadap semesta. Rasanya gembira sekali saat sinar bulan dengan sempurna membentuk bayangan tubuh saya. Lama sekali saya menikmati langit ramadhan itu, Sebuah konstelasi yg Maha Sempurna; bulat rembulan, cerah langit, angin nan lembut membasuh muka, hatiku yang ketika itu rendah, dan mata yang tak kunjung tuntas mengagumi karya Tuhan itu.
Hanya sesal saya ketika itu, harusnya saya berkhalwat, ngobrol dengan Tuhan, curhat, minta pendapat, bercanda dan banyak lagi. Tetapi saya hanya diam menanti saat sahur tiba, memandang langit.
Hanya sesal saya ketika itu, harusnya saya berkhalwat, ngobrol dengan Tuhan, curhat, minta pendapat, bercanda dan banyak lagi. Tetapi saya hanya diam menanti saat sahur tiba, memandang langit.
Selasa, 02 September 2008
Duduk Bersebelah Pagi
Esok
Bila pagi datang
Bercerita tentang malam
dan subuh yang mengait senja
Maka bangunkan aku
Sebab tak kudapati kerlip bintang dibuai bulan
Dalam mimpiku
Maka bangunkan aku
Sebab ceritanya mewakili duniaku yang kutinggal
dalam pejam
Bila pagi datang
Bercerita tentang malam
dan subuh yang mengait senja
Maka bangunkan aku
Sebab tak kudapati kerlip bintang dibuai bulan
Dalam mimpiku
Maka bangunkan aku
Sebab ceritanya mewakili duniaku yang kutinggal
dalam pejam
Langganan:
Postingan (Atom)