Kamis, 18 September 2008

Langit Ramadhan

Rasanya malam itu sungguh berbeda. Entah dari pancar rembulan, banyaknya orang yang keluar rumah pada malam itu, atau suara bacaan Al-Quran dari ponpes dekat tempat tinggal, yang menghadirkan rasa khidmat dalam hati saya. Malam itu, menjemput 17 ramadhan, menundukkan hati saya pada kecintaan terhadap semesta. Rasanya gembira sekali saat sinar bulan dengan sempurna membentuk bayangan tubuh saya. Lama sekali saya menikmati langit ramadhan itu, Sebuah konstelasi yg Maha Sempurna; bulat rembulan, cerah langit, angin nan lembut membasuh muka, hatiku yang ketika itu rendah, dan mata yang tak kunjung tuntas mengagumi karya Tuhan itu.
Hanya sesal saya ketika itu, harusnya saya berkhalwat, ngobrol dengan Tuhan, curhat, minta pendapat, bercanda dan banyak lagi. Tetapi saya hanya diam menanti saat sahur tiba, memandang langit.

Tidak ada komentar: