Rabu, 19 November 2008

Berhenti

Well, karena satu dan lain hal ini blog saya hentikan. Semoga di lain kesempatan saya bisa ngeblog lagi ndik sini. Rencananya blog ini hanya saya isi karya-karya saya yang ngga' nyeni sama sekali dan gak penting babar blas. :p
so buat urusan diary blognya saya mutasi. wekwekwekwekwek...
cya!

Selasa, 11 November 2008

Betah!

Aku ingin hidup sederhana
Dengan tiang-tiang rumah sepi tanpa warna
Hingga aku bisa brsandar tanpa perlu takut menggores catnya

Dalam ruang sunyi tanpa cahaya
Kupilih kursi berkakitiga
sebelah lemari kayu warisan mertua
tuk sembunyi bila takut meraja

Kan kutulis sajak-sajak kesukaanmu
Pada dinding-dinding bambunya yang tua
---sebagai ganti rindu

Sengaja kubiarkan pintu terbuka
Sebagai makmumku atas doa
Demi kesediaanmu melewati kedua kakinya

Kamis, 18 September 2008

Kepadamu aku ikhlas

Kepadamu aku ikhlas
Untuk hanya mencinta,
tanpa perlu menyandingmu
Untuk hanya menatap,
tanpa perlu memeluk atau menggandeng tanganmu
Untuk satu atau seribu luka karenamu
Untuk setetes atau sedanau airmata
pada senyummu.

Langit Ramadhan

Rasanya malam itu sungguh berbeda. Entah dari pancar rembulan, banyaknya orang yang keluar rumah pada malam itu, atau suara bacaan Al-Quran dari ponpes dekat tempat tinggal, yang menghadirkan rasa khidmat dalam hati saya. Malam itu, menjemput 17 ramadhan, menundukkan hati saya pada kecintaan terhadap semesta. Rasanya gembira sekali saat sinar bulan dengan sempurna membentuk bayangan tubuh saya. Lama sekali saya menikmati langit ramadhan itu, Sebuah konstelasi yg Maha Sempurna; bulat rembulan, cerah langit, angin nan lembut membasuh muka, hatiku yang ketika itu rendah, dan mata yang tak kunjung tuntas mengagumi karya Tuhan itu.
Hanya sesal saya ketika itu, harusnya saya berkhalwat, ngobrol dengan Tuhan, curhat, minta pendapat, bercanda dan banyak lagi. Tetapi saya hanya diam menanti saat sahur tiba, memandang langit.

Selasa, 02 September 2008

Duduk Bersebelah Pagi

Esok
Bila pagi datang
Bercerita tentang malam
dan subuh yang mengait senja

Maka bangunkan aku
Sebab tak kudapati kerlip bintang dibuai bulan
Dalam mimpiku

Maka bangunkan aku
Sebab ceritanya mewakili duniaku yang kutinggal
dalam pejam

Rabu, 27 Agustus 2008

Putih Merah Lagi

Di suatu siang tiba-tiba Mindtrick-nya Jammie Cullum berkumandang dari telepon selular saya. Sebuah sambungan dari nomor yang sama sekali tidak saya kenal. Dengan baik sangka saya menerima panggilan itu. Begini detilnya:
Dia: "Hallo!! Teguh?!?! (menyeru dan seolah takut salah nomor)
Saya: "Ya" (g' pake salam lagi!)
Dia: "Eh, arek sing omahe dekat sekolah SD, sing jualan bensin iku sopo jenenge?"
Saya: "Lho sopo iki?!"
Dia: "Iki Vita konco SD mu!" (berikutnya "Dia" saya ganti dengan "Vita")
Saya: "Oooo..."
Saya: "Waduh sopo yo, wis suwe ga' mulih?!"
Vita: "Sopo?! Bana yo?!", dia menebak.
Saya: "Dudu', pekk!!", "Sopo yo?!", saya masih mencoba mengingat.
Saya: "Tio!!!", saya akhirnya menemukan namanya.
Vita dan Kawan2: "Iyo!!!" (mereka serempak, sepertinya diloudspeaker)
dan tut..tut...tuuut..., sambungannya diputus.
Dan saya masih melongo dengan segala tanda tanya dari seluruh dunia.
Berikutnya Vita mengirim sebuah SMS yang isinya mengajak saya dan kawan2 datang ke acara reuni SD.
Saya nothing to lose, yang penting iya saja. 24 Agustus 2008 jam 12 tet,rumah makan Sumatra.
Malam menggulung siang hingga 24 Agustus 2008 jam 12 tet pun tiba. Saya datang dengan roda dua paling setia dan berdandan casual (saya bingung juga harus berdandan apa waktu itu).
12.25, kalau saya digitalisasi jam dinding analog dalam RM Sumatra. Saya orang keempat yang hadir ketika itu. Hanya ada dua orang panitia dan satu orang pemain musik. Praktis, berarti saya adalah peserta pertama yang hadir. berikutnya, segelintir demi segelintir kawan2 berdatangan.
Hampir mereka semua tidak mengenali saya, saya dulu yang berperawakan kecil, rambut lurus dan tak terawat, kini menjelma seorang pangeran tegap, rambut ikal (karena seumur hidup ga' begitu suka nyisir :p) dan cakep. (asli, ini kata mereka lho!) hwehehe...
eh, kata Guru2 yang datang juga gitu. :D
Suasana cair dengan cepat, basa basi tuntas dan acara segera dimulai.
Karena pas SD dulu saya sempat langganan Juara kelas, saya pun didapuk menjadi juru bicara perwakilan dari peserta. Saya tidak banyak bicara, Buka dengan salam tutup dengan salam plus terimakasih.
Acara usai, guru2 yang diundang sudah pulang, kami mengingat masa kecil. Semua, tentang segala kelucuan, kenakalan, dan kekanak-kanakan kami.

Ternyata secara kepribadian mereka tidak banyak berubah, cara mereka berbicara, menyikapi perkataan oranglain, menghadapi orang yang lebih tua dan banyak lagi karakter yang telah dicampuri oleh kedewasaan pemikiran. Dari itu saya mendapati bahwa apa yang terjadi dimasa kecil secara dominan mempengaruhi karakter seseorang pada masa dewasanya. Hampir semua kawan yang saya lihat kembali ke masakecilnya, ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang saya nilai ketika itu. Teman saya yang sejak kecil jago berkelahi, sekarang penampilannya seperti preman. Yang dulu memang suka berdandan, sekarang anaknya sudah dua. (oops!)
Saya yang... Yang apa ya?!
Bisa bantu?!