Sabtu, 04 Juli 2009

I called it reply

Yos sayang…..
Sore itu aku membuka pintu dan menemukan sebuah amplop hitam berukuran sedang di balik pintu kamarku. Ia tak bernama. Sebenarnya sudah lama aku tidak menemukan surat kaleng seperti ini. Kupikir siapa gerangan, tak biasanya ia berwarna hitam. Bukan merah jambu atau biru muda dengan gambar hati di sudut kiri atasnya. Penggemar rahasiaku. Ah, saat seperti ini juga aku masih saja menepuk dada dihadapanmu.
Aku tak langsung membacanya, amplop hitamnya membuatku takut. Kusimpan di dalam lemari dekat cermin rahasia. Ya, cermin itu dalam lemari, karena itu aku menyebutnya cermin rahasia. Tak ada orang yang tahu kalau ada cermin dalam lemariku. Mungkin kau juga tak pernah tahu. Seingatku, setiap kali kau bertandang ke tempatku untuk menonton Si Doel atau Insert kau tak pernah bertanya tentang cermin. Mungkin kau sudah merasa sangat cantik sehingga meski terkena debu jalan, kau tak perlu memperbaiki dandananmu. Memang, Yos. Kau memang cantik. Tapi maaf kalau aku sering meninggalkanmu keluar untuk sekedar menikmati tembakau saat kau bertandang. Dan kau melipat mukamu ketika aku datang kembali. Tentu kau sangat membencinya. Maaf.
Lhah, apa yang sedang kubicarakan ini?! Sangat tidak penting!!!
Maaf, aku tidak fokus.
Jam delapan malam setelah aku menikmati hidangan buka puasaku aku mulai membuka amplop hitam itu. Bibirnya tak direkat dengan lem. Kertasnya bagus, sepertinya rancangan sendiri.
Aku menarik kertas-kertasnya. Empat lembar kertas sisa kertas buku kuliah. Aku membukanya pelan-pelan, coba menerka siapa pengirimnya. Ternyata darimu. Aku kenal tulisannya. Jelek. Ah, tidak, bukan. Aku bercanda. Caramu menulis ‘k’, ‘g’, ‘j’ dan ‘y’ itu sangat khas. Aku tak dapat menjelaskannya, pokoknya khas.
Ditengah membaca aku berhenti untuk menyalakan pemutar musik untuk memainkan Careless Wishper-nya George Michael dan How Deep is Your Love-nya Beegees. Kupikir agar lebih merasuk, seperti yang kau ceritakan. Dan tidak ada guru SMAku yang menganjurkan untuk belajar lewat tengah malam hari. Lewat tengah malam hari hanya untuk berdoa atau bertemu makhluk halus. Haha. Aku bercanda.
Aku setengah duduk di atas kasurku. Kutumpuk bantal dan guling untuk menopang leherku. Aku tak biasa membaca dengan merebahkan badan. Hanya akan melukai mataku yang kau bilang menarik itu. Kini aku tahu, kecuali mataku, yang lainnya adalah adalah sampah. Tak apa. Ternyata Rania benar tentang mataku itu. Maaf aku menyebut nama Rania. Kakak angkatan yang selalu menggangu pikiranmu tentang hubungan kita.
Semoga ia tenang di alamnya sana. ;) Eh, tapi dia kan masih hidup?!

Sangat lama Yos. Waktu perpisahan yang cukup untuk sekali bertanam tebu hingga saat panennya tiba. Saking lamanya, hingga aku lupa bagaimana terakhir aku menggenggam tanganmu. Seperti dirimu, aku sibuk mengurusi bisnis kedua orangtuaku. Mengawasi kontruksi atau merawat jagung, padi dan tebu yang berhektar-hektar luasnya. Dan berusaha menuntaskan sekolahku tentunya.
Aku lelah, Yos. Aku ingin mendengar suaramu. Mengumpulkan kembali ceceran energiku dengannya. Entah mengapa Yos, aku selalu teringat denganmu saat aku lelah. Dan kau selalu mengeluhkan aku tentang itu. Kau bilang aku hanya membutuhkanmu saat aku lelah. Mungkin kau sudah bosan menjadi sandaran hatiku. Sekali lagi maaf.
Tapi aku masih punya cara lain yang lumayan membantuku. Adalah melihat kabarmu, membaca isi hatimu dari tulisan di blogmu atau dari situs jejaring sosial yang sekarang sudah mulai kau abaikan. Sudah bosankah kau memberitahukanku kabarmu?! Tak apa.

Ah, Yos! Kau mengingatku tentang masa itu. Terimakasih. Ini juga harus kau tahu. Tidak ada orang yang membuatku stres dengan perdebatan seperti dengan debatmu, tak ada orang yang ingin kupeluk saat menangis seperti saat kau menangis meski tak pernah kuasa kulakukan, tak ada sikap menjengkelkan yang pernah kurindukan seperti kau yang membanting segala sesuatu didekatmu lalu memintaku untuk mengambilnya kembali, tidak ada, Yos. Oh, ya. Menendang pijakan motor dan memukul-mukul stang kemudi motor termasuk hal menyebalkan yang kurindu padamu. (Ahhh, so sweet...) Konyol.

Aku masih ingat, dulu pernah kau berkata, “Ray, jika kau merindukanku, bicara saja, bintang kan mendengar, maka aku akan merasakannya”. Indah sekali kata-kata itu, meski kumaknai “Berhentilah mencariku”. Sepertinya kau mengambil dari syair lagu.
Aku sering berbicara pada bintang. Sampai sekarang bahkan. Tentangmu, tentang bagaimana aku merindumu. Tapi sepertinya aku berbicara pada bintang yang salah, ia pemalas, tak satupun rinduku yang disampaikannya padamu. Curigaku. Tak apa.

Tentang kebiasaanmu itu, tentang angin yang menghantam sesuatu itu, aku memakluminya. Kau tak perlu resah. Aku juga melakukannya, bukan?! Bahkan dengan mengangkat satu kaki seperti seekor anjing. Kau tertawa tiap kali aku melakukannya. Kecuali, perkara merogoh lubang hidungmu itu aku yang tak sanggup. Menjijikkan. Kalau kau tak percaya cobalah lakukan didepan cerminmu, kau akan tahu mengapa aku sangat mengutuknya.
Ah, Yos, tidak ada yang dapat kau dan aku akomodasikan pada pribadi masing-masing kecuali puisi. Aku pembaca dan kau penulisnya. Kita bertemu pada kedalaman puisi itu sendiri. Aku menikmatinya, entah denganmu.

Belakangan kudengar dari seorang kawan, kau telah bersama orang baru. Prestatif. Ah, tidak, prestatif bukan nama orang. Tapi hidupmu yang prestatif. Aku mengangkat topi karenanya. Mungkin dorama-mu lebih apresiatif dengan dirinya yang konon sangat manga. Mungkin memang epic Gatotkaca, Arya Kamandanu, dan Gajahmadaku terpisah terlalu jauh dengan modernitas keduanya.
Yos, aku melihat hatimu kini sedang meloncat-loncat kegirangan, seperti seekor monyet (kenapa harus monyet, sih?!) yang menangkap lemparan pisang atau kacang. Aih, kau bahagia rupanya. Aku lega.
Kini aku mampu memaknai kalimatmu; “berbahagialah, karena aku juga akan bahagia”. Inikah yang kau maksud dengan “akan”-mu itu?!, jika demikian, aku menangkapnya.

Baiklah, Yos. Ini perpisahan. Sebenar-benarnya perpisahan. Entah di mana ujungnya. Aku enggan mencarinya, karena mungkin kau sangat tak mau ia berujung. Dan pertemuan-pertemuan diantara kau dan aku nantinya adalah karena kebetulan dan percakapan diantaranya adalah basabasi. Maaf, Yos, tubuhku penuh luka oleh tanganku sendiri, tak mungkin ada tempat lagi untuk kau menambahkannya dengan yang baru.

Lia...( kalau tidak salah, seperti ini kawan-kawanmu memanggil namamu)
Mari lupakan janji kita untuk bertemu di masadatang. Kau pun boleh pindahtangan-kan rumah itu. Untuk menjadi rumah bagi orang lain, agar ia rasai teduhnya hatimu, lembutnya perlakuanmu. Entah aku akan selamanya mengembara (sehh, mengembara bo’?!), atau akan menemu rumah untuk hati ini kelak nanti. Aku kan lupakan janjimu untuk menantiku. Aku tak dapat lagi pulang, kini. Rumah itu penuh sesak dengan mimpi-mimpi dan khayalanmu. Dan dia tentunya. Eh, siapa?! Farid?! Aku tak mengenalnya.
Tinggal kutunggu undangan yang mungkin tak kuasa aku hadiri dari Yos Anneke Rusmalia, dirimu. Kau tahu Lia?, aku merasakan energi kalian. Tak lebih dari enam bulan sejak hari kalian bersama, dia akan melamarmu dan tiga bulan berikutnya kalian akan menikah. Kita lihat saja ramalanku ini. Aku tak akan mencarimu selama perpisahan ini berlangsung, jadi kau tak perlu lagi beralasan menemani ibumu jika kau enggan bercakap denganku. Aku akan ada dalam kedalamanku sendiri, tempat yang aku biasa ceritakan padamu.

Sekian Lia, bedug subuh memanggilku. Aku harus pergi. Tetaplah menjadi dirimu yang cerdas, suci, polos, dan tak terjamah. Satu lagi, dan mulailah belajar kentut didepan kekasihmu itu. Seperti aku, dia akan mencintai kebiasaanmu itu.

Que tu me manques, perempuan suciku. (sebenarnya aku juga tak tahu artinya kalimat ini)


Atasnama tembakau dan kopi yang kau kutuk selalu,

Remba Adhitama Yudian.


NB: sampai jumpa kembali, nanti, entah pada panen tebu yang ke berapa.