Minggu, 16 Agustus 2009

Halahh...

Lho kok?!?!

nggarai kembar ae...

Sabtu, 15 Agustus 2009

Becak!

Sebentar ya Din...
berbicara tentangmu ternyata melelahkan.... semakin dibicarakan, semakin banyak masukan semakin banyak yang dipikir buat dibahas di sini. Pending dulu, kalau berat-berat gitu mending belakangan wae.

karena ada cerita yang lebih asik buat dibicarakan. sebenarnya bukan lebih asyik, cuma lebih ringan. Maaf juga buat pembaca yang nunggu-nunggu (siapa juga?! ge-er...) kelanjutan cerita Nurdin versi saya. Hehe.

Jadi, pas kemarin saya pulang buat cari-cari file-file saya yang bertuah (ini lebih kepada karena barangnya sudah terlalu lama dan usang), tanpa sengaja saya menemukan buku kumpulan tulisan-tulisan saya waktu masih SMA. Nostalgila deh jadinya...

Saya buka satu per satu halamannya, tulisan-tulisan yang lebih condong ke puisi (nah, kalau yang ini lebih karena gaya penulisannya yang berbait-bait) dari pada ke cerpen (ini kalau dilihat dari isinya) ataupun mantra (saya kesulitan menjelaskan bagian ini, maaf :p) itu saya baca kembali. Setiap tulisan yang saya buat, bertanggal dan berkedudukan. Ternyata pencantuman dua hal itu lumayan membantu untuk proses nostalgie macam ni. Semua saya lihat kembali peristiwanya, saya putar kembali memorinya. Kecuali satu yang menyusahkan otak saya untuk mengingat kejadian yang menghamilinya.

Ini dia;

Di atas becak itu

Digenggamnya tanganmu
Tangan yang kubungkus benang sutera, kusirami air bunga

Di atas becak itu
kau sandarkan tubuhmu, diciumnya wajahmu
wajah yang kutaburi daun mint dan Anggrek beraneka warna

Di atas becak itu
Ditatapnya matamu, ditinjunya mesra dagumu
Untuk mata itu, aku mencuri sepasang bintang
Untuk dagu itu, kucucup sari Kamboja

Di atas becak itu, aku diam.
Diam dan mengayuh.

Gresik, 22 Pebruari 2001

Jadi, apa yang sebenarnya saya pikirkan ketika itu, apa yang kebetulan melesak dipikiran saya. Aneh sekali. Bayangkan, saya single, sedang naksir teman satu sekolah tapi tidak sedang cemburu, tapi melahirkan tulisan konyol beraroma cemburu namun santun seperti ini.
Lama. Tapi akhirnya nemu juga. Seingat saya, dulu itu, karena single, sementara teman-teman lain pacaran, saya iseng-iseng ingin juga merasakan sensasinya punya pacar dan berpacaran. Saya bingung memilih sensasi apa yang harus saya rasakan. Setelah berbagai pertimbangan dan perhitungan kemungkinan terjadinya resiko (padhane opo wae..?!) pilihan pun jatuh pada "cemburu". Aneh juga, kenapa kok cemburu yang saya pilih, harusnya kan senengnya pulang bareng, nonton konser berduaan, ke kantin trus nyuri-nyuri gandengan tangan, ngapel malam minggu, atau apapun lah, yang bahagia pokoknya. Saya curiga, karena saya tidak pernah punya pacar jadi saya takut kesulitan kontemplasi. Sementara cemburu sering datang, terutama kalau Sang Pujaan Hati lagi indehoi, mesam-mesem dengan pacarnya. Yang ini sepertinya mendekati benar. :D

Saya pun kontemplasi, ide dasarnya adalah seandainya saya punya mantan pacar yang kemudian putus hubungan dan menjalin hubungan baru dengan orang lain. Tapi kok hasil kontemplasinya saya jadi tukang becak?! Itu yang tidak habis saya pikir. Tapi itu juga mungkin, karena saya suka bercanda dengan sangat ekstrim seperti itu, dulu ketika SMA.

Dan lihat tulisannya! Khas anak SMA. Polos. Tidak ditutup-tutupi.

"Tangan yang kubungkus benang sutera, kusirami air bunga"
.

shaaassh... kenapa juga tangan orang pake disiram air bunga. Mungkin tu orang belum cuci tangan sehabis buang sial di kamar mandi. Karena ngga' nahan baunya, makanya trus disiram air bunga. haha, konyol.

Dan ini,
"wajah yang kutaburi daun mint dan Anggrek beraneka warna"

untung waktu itu saya tidak membayang wajah orang yang saya taburi daun mint dan bunga anggrek. Bisa seminggu lewat dua menit saya terpingkal.

Ah, dasar! Beginilah kalau pemuda tampan nan pemalu terlanjur kepingin jatuh cinta. Cuma bisa naksir dan mengalah. (curcol nih, ceritanya...) :p
Konyol sekali.


-untuk kamu, kamu yang sedang "nekad"-

Selasa, 11 Agustus 2009

Saya Noordin!

Siapa di dalam?
Saya Nurdin!
-------------------------
Sejak itu saya menutup mata, menutup pendengaran dan ngeloyor pergi. Anehnya. mereka masih juga di sana, dengan peluru yang siap meluncur kapan saja pelatuknya ditarik. Berderet-deret, berbaju hitam, berkacamata hitam merk Oakley. Keren! Masuk tivi lagi!
Well, dear Reader.
Masuk akal ga' sih, kalo Itu si Nurdin emang bener-bener Noordin si Enemy of the State? buat saya, engga' banget!

Berikut ini adalah analisis ke-Noordin-an yang iseng-iseng muncul di benak saya.

1. Tempat persembunyian; itu teroris jaman kapan, terus sembunyi di tempat terpencil dan bebas plus mudah terjadi perang terbuka gitu? Seorang penjahat yang cerdas, tentu tahu pasukan jenis apa yang dihadapinya. Tentu saja tempat dengan pertahanan paling baik yang dicari, bukan rumah yang empat penjuru mata anginnya adalah persawahan.
Wak, ini Noordin Wak! Bukan Mat Pelor, si centeng kumpeni!

2. Saya Nurdin!; nah, ini paling konyol dan jelas menggambarkan kalau ini sama sekali bukan Noordin. Lagian pertanyaan "Siapa di dalam?", itu pertanyaan prosedural paling penting untuk dihapuskan. Kalau proses telisik sudah matang, kita pasti tahu siapa saja dibawah atap rumah itu, termasuk berapa jumlahnya, apa saja yang ada di dalamnya. Kok malah tanya siapa di dalam. Kalau saya yang di dalam pasti saya menjawab "Kucing!", atau "Luna Maya", "Ridho Rhoma", "Mbah Surip", "Mario Teguh" atau siapapun. Biar emosi skalian mereka semua yang mengepung.

Sementara dua analisis ini dulu ntar dilanjut kapan-kapan lagi. Ngantuk.

Harusnya ini belum layak tayang, tapi.... gapapa deh...