Selasa, 26 Januari 2010

Sally dan teriakannya ke langit

Usianya belum genap lima tahun. Bersicepat dengan hujan dan teriakan ibunya. Gadis kecil yang tingginya tak lebih dari sepinggangku itu menghambur ke arah kami. Ada titik-titik air dirambutnya yang ikal. Ia tampak sangat menggemaskan. Ia bercerita tentang bagaimana ia berlari menerobos gerimis, tentang ia yang nyaris terpeleset, tentang rok barunya yang terkena kecipak air oleh kakinya. Padaku. Celoteh itu adalah pertama kalinya padaku, tanpa perlu aku mengenalnya atau ia mengenalku. Tanpa sungkan, tanpa getar keraguan ia lalu naik ke pangkuanku. Kembali ia bercerita tentang apa saja yang dicatat oleh pikirannya tanpa perlu memperkenalkan Kelompok Bermain Harmoni, Bu Ina, Bu Desi, Angelica, Herman, Rahmad, belokan Indomaret, dan tempat kerjanya Mama kepadaku. Ia berbicara tanpa putus, terus dan terus hingga aku kewalahan menanggapinya.

Setengah jam, langit kembali terang. Mewarna mendung seputih kapas, menghangati dedaunan, mengeringkan jalan-jalan, mengobarkan semangat juang para pemburu rupiah untuk melangkah kembali. Aku masih duduk di tempatku, melepas Sally ke halaman. “Urusan telah usai kutuntaskan, kan kunikmati hangat ini hingga Tuhan Memanggil sore hari datang”, pikirku.

Kuamati Sally lekat-lekat. Halaman rumah Mbok Natemi, tempat aku menikmati Nasi, Telor dan Mi, ia injak-injak tanpa alas kaki. Lucu sekali. Kepalanya sering mendongak ke langit, lalu mengangkat kedua tangannya ke udara sambil berteriak dan melompat-lompat. Cukup jauh tempatku darinya hingga aku tak mendengar isi teriakan yang sepertinya ia tujukan kepada langit itu.
Mbok Natemi menangkap cinta di mataku untuk gadis kecil itu lalu berkata “Kasihan anak itu mas, ia sudah tidak punya ayah sejak dua tahun lalu”.
“Oh, ya?!”, aku bertanya.
“Ayahnya adalah korban pesawat Lion Air yang kecelakaan dua tahun lalu. Dan jasadnya hingga kini belum juga ditemukan”
“Mmmmm...”, aku manggut-manggut.
Kurasai tenggorokanku tercekat, dadaku menjadi sesak, ingin menangis rasanya.

“Sally!!!”. Suara itu terdengar dari kejauhan.
“Ambil sandalnya, nak. Ayo, sini, ibu mandikan!”.
Ia berlari sambil meloncat, mendekati sandalnya. Belum sampai, ia berhenti, mendongak ke langit. Dilihatnya seekor burung besi hendak melintas di atas kepalanya. Kembali ia memaparkan kedua telapak tangannya ke langit. Sally melompat-lompat kembali. Sayup-sayup kudengar teriakannya.
“Ayah!”

Hati siapa tak luka?
Jiwa siapa tak tergetar?
Hatiku luka, jiwaku tergetar mendapati itu. Semoga kau juga demikian.
Aku tahu persis sang ibu telah beratus kali mendengar teriakan Sally itu. Dan gores di kalbunya tak pernah sedangkal gores di kalbuku. Tapi cium di pipi Sally dan senyum sambutnya adalah sirat keceriaan. Aku kenal topeng itu, Ibu. Bertahanlah!. Aku yakin ada takdir yang begitu indah untukmu juga Sally kecil kecintaanmu, kelak nanti.

Sally kecil, untukmu Tuhan Mewajibkanku dan lelaki dewasa lainnya agar menyisihkan sebagian cinta di hati kami.

Aku pulang, membawa mendung di mataku. Teringat kembali teriakanku dan kawan-kawan kecilku dulu kepada pesawat ketika ia melintas di atas kepala kami, lalu sambil diam-diam di benak kami mengharap pesawat itu menjatuhkan sesuatu yang kami minta dalam teriak itu. Meski kecewa karena tak kunjung jatuh, nanti, atau esok ketika melintas lagi, akan kami teriakkan kembali.
“Pesawat, Minta uang!!!”


-untuk Sally, kepadamu hatiku menyisihkan cinta-