Aku dudukkan replikaku dengan posisi yang sama, saling hadap denganku. Dan mulailah aku bercakap dengannya. Aku bercerita banyak hal padanya, mengenai rindu, hujan, kemarau, petang dan juga pelukan. Ia tak banyak bicara, “terus” “lalu” “ya, ya?!” “hmmm”, hanya itu. Lalu tersenyum sepanjang ceritaku. Aku juga bercerita tentangmu, tentang kita yang saling mengalihkan pandangan ketika mata-mata kita bertumbukan, tentang cakap kita yang tak saling pandang, tentang kekakuan yang coba kita lunturkan dengan kebasabasian, tentang rindu yang kau dan aku coba tuntaskan.
Meski terlihat acuh dengan membuka-tutup ponselnya, memainkan lagu-lagu Padi di laptopnya tapi aku tahu ia tetap tulus mendengar ceritaku. Ia tertawa mendengarku bercerita bahwa kedatanganmu memperbaiki peruntunganku. Terbahak. Konyol katanya. Ah, dia lucu, bukan. Dan aku juga bercerita tentang perjalanan mengantarmu pulang. Tentang romantisme yang menjadi keunggulan motor ketimbang mobil. Tentang aku yang memintamu memelukku mendekati tikungan terakhirnya.
“Aku merasai segalanya”, kubilang.
“Kau tahu, dan ia pun membenamkan wajahnya kepundakku”, tambahku.
"Bukan raganya yang memelukku, tapi hatinya”, aku tak berhenti.
Ia terkekeh. Semakin lama kekehnya semakin keras, lalu ia menangis. Untukku.
“Kau bisa merangkum pesan yang disampaikan dalam peluknya itu?”, tanyanya.
“Ya”. Jawabku.
“Apa?” kembali ia bertanya.
“Aku mencintaimu, apapun itu, kapanpun” aku meyakinkan dia.
“Salah”. Seringainya menggiringku bertanya.
“Lalu?” aku balik bertanya.
“Tidakkah kau rasa itu pelukan yang dia berikan kepadamu untuk terakhir kalinya? Tidakkah kau rasai bahwa pelukan itu adalah sesuatu yang akan ia ingat bukan sesuatu yang akan ia ulangi? Bukankah sudah kau takutkan bahwa akan ada hati lain yang memikatnya?”
“khkhkhkhkh....”
“Hahahaha....”
Aku muntab, marah dengan ketidakmampuanku mewujudkan hatiku melekat dihatimu. Kutendang dadanya, ia terjengkang. Aku menerkamnya lalu ia pun lenyap, menyatu kembali dalam tubuhku.
Aku mengumpatnya dalam hati.
Pelan-pelan kurasai lubang hidungku memberat dan melebar, basah. Katung mataku juga lebih berat, bola mataku mengkilat berkaca-kaca. Persis seperti ketika kau labuhkan peluk dan wajahmu di pundakku.
"Hujan sehari menghapus kemarau sepanjang tahun"
"Lalu apa arti basahnya tanah, lembabnya udara, dinginnya cuaca, titik-titik air di ujung dedaunan menjuntai sore ini jika esok kemarau menggilas lebih trengginas?"
nb: aku suka keganjilan ini, sesak di dada tapi membuatku lancar menulis, semoga berpengaruh baik pada skripsiku... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar